Jakarta — Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta menerima kunjungan resmi dari Yayasan Dekrit dalam rangka penjajakan kerja sama program literasi digital, pada Selasa, 2 Juni 2026, pukul 08.00 WIB, bertempat di lingkungan Pondok Pesantren Darunnajah. Pertemuan ini menandai langkah awal sinergi strategis antara lembaga pendidikan Islam terkemuka itu dengan Yayasan Dekrit dalam bidang teknologi pendidikan.
Diskusi berlangsung hangat dan produktif dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan dari kedua pihak. Dari pihak Pesantren Darunnajah, hadir KH. Hadiyanto Arief selaku Pimpinan Pesantren, H. Suwaryo dari Bidang Usaha Pesantren, serta Fahd Noor. Sementara dari lingkungan akademik Universitas Darunnajah, turut hadir Hasim Abdul Jamil selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, serta Azrul Azmani selaku Kepala Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Delegasi Yayasan Dekrit hadir untuk memaparkan proposal program secara langsung kepada para pemangku kepentingan Darunnajah.
Pertemuan tersebut membahas proposal kerja sama yang telah diajukan Yayasan Dekrit kepada Pimpinan Yayasan Darunnajah tertanggal 26 Mei 2026. Yayasan Dekrit, yang berkedudukan di Villa Bintaro Indah, Ciputat, Tangerang Selatan, menawarkan program Pembelajaran Coding dan Robotik Berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang dirancang khusus bagi para santri di lingkungan jaringan pesantren Darunnajah.
Program ini bertujuan mentransformasi santri dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi (creators), dengan menanamkan kemampuan computational thinking, literasi kecerdasan buatan (AI), pemrograman, dan robotika sejak dini — tanpa mengganggu ritme ibadah serta kegiatan belajar harian santri.
Salah satu poin menarik yang dipaparkan dalam diskusi adalah skema pembiayaan mandiri yang diusung Yayasan Dekrit. Seluruh biaya program — mulai dari pengadaan perangkat robotik, penyusunan kurikulum, hingga pelatihan mentor — akan ditanggung sepenuhnya oleh Yayasan Dekrit melalui mekanisme blended financing, yakni kombinasi dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf), CSR korporasi, serta hibah dalam dan luar negeri. Dengan skema ini, pesantren tidak perlu mengeluarkan anggaran operasional tambahan.
Komponen kemitraan yang ditawarkan mencakup empat pilar utama: kurikulum terintegrasi yang ramah santri, penyediaan infrastruktur dan perangkat praktik robotik, program Training of Trainers (ToT) bagi ustadz/ustadzah internal, serta pendampingan berkala untuk mempersiapkan santri mengikuti kompetisi teknologi tingkat nasional maupun internasional.
Kehadiran Dekan Fakultas Sains dan Teknologi serta Kepala Prodi RPL dalam pertemuan ini mencerminkan relevansi program tersebut dengan pengembangan akademik Universitas Darunnajah. Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) Darunnajah dinilai dapat menjadi mitra strategis sekaligus jembatan antara kurikulum teknologi Yayasan Dekrit dengan ekosistem pendidikan pesantren, mengingat SDM dan kompetensi yang telah dimiliki prodi tersebut.
Yayasan Dekrit menyatakan harapannya agar kerja sama ini dapat segera ditindaklanjuti, sehingga Darunnajah dapat menjadi pionir pesantren berbasis teknologi di Indonesia — melahirkan generasi technopreneur Muslim yang kokoh secara spiritual sekaligus unggul secara digital. Sinergi ini diyakini akan memberi dampak besar, tidak hanya bagi santri dan pesantren, tetapi juga bagi pemenuhan kebutuhan talenta digital nasional secara lebih luas.
Foto: Perwakilan Yayasan Dekrit bersama jajaran pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah usai diskusi kerja sama di lingkungan Pesantren Darunnajah, Jakarta, Selasa (2/6/2026).




