Jakarta/RPL.UDN – Pada Sabtu tanggal 24 Januari 2026, Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak Universitas Darunnajah mengadakan sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Membangun Budaya Lembaga yang Unggul dan Inovatif” (Development of Great and Innovative Corporate Culture). Acara ini dihadiri oleh akademisi dan praktisi pendidikan dari berbagai kalangan, serta menghadirkan Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., yang baru saja diangkat sebagai Profesor Emeritus dan saat ini menjadi dosen tetap di Program Studi Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah.
Prof. Abuddin Nata dalam paparannya menekankan pentingnya budaya dalam pembentukan lembaga yang unggul dan inovatif. Beliau menjelaskan bahwa setiap lembaga pendidikan harus memiliki “ruh” yang dapat dirasakan meskipun tidak terlihat secara fisik. Menurutnya, ruh ini menjadi landasan utama dalam membangun budaya lembaga yang sukses dan memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman serta tantangan yang ada.
Dalam sesi tersebut, Prof. Abuddin Nata juga mengungkapkan bahwa budaya yang kuat dan positif menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan lembaga. Budaya yang demikian akan mendukung tercapainya hasil yang unggul dalam berbagai aspek, baik itu akademik, manajerial, maupun dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, budaya yang dinamis menjadi kunci dalam menciptakan lembaga pendidikan yang memiliki daya saing tinggi.
L
ebih lanjut, beliau juga mengingatkan bahwa keunggulan dan inovasi tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi atau kecerdasan buatan (AI). Meskipun teknologi berkembang pesat, sentuhan manusia yang kreatif dan berpikir kritis tetap diperlukan dalam menciptakan solusi inovatif. Lembaga pendidikan, menurutnya, harus mampu memadukan kemajuan teknologi dengan pengembangan kualitas manusia yang unggul.
Prof. Abuddin Nata juga menekankan bahwa lembaga pendidikan saat ini harus beroperasi dengan logika transaksional, menggunakan bahasa bisnis, namun tetap mengedepankan prinsip nirlaba. Pendidikan bukan lagi sekadar tempat belajar, tetapi juga entitas yang memiliki desain lengkap dan diperdagangkan, yang harus mampu beradaptasi dengan dinamika pasar dan kebutuhan masyarakat.
Di akhir sesi, beliau menjelaskan bahwa budaya lembaga yang kuat tercipta dari perpaduan antara tiga aspek penting: akal (head), hati (heart), dan tangan (hand). Ketiga aspek ini bekerja sama untuk membentuk karakter dan perilaku SDM di lembaga. Karakter ini, yang mencakup adab dan akhlak, akan tercermin dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh para pemangku kepentingan di lembaga tersebut.
Melalui FGD ini, diharapkan semua pihak dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam mengenai pentingnya budaya lembaga yang unggul dan inovatif. Dengan demikian, Universitas Darunnajah dan lembaga pendidikan lainnya dapat terus berkembang dan bersaing di era globalisasi ini.




